UKM Peternakan Ayam

Sektor peternakan di desa Gemulung sebenarnya bukanlah sektor utama mata pencaharian penduduk di desa yang terletak sekitar 2 Km dari pusat pemerintahan Kecamatan Pecangaan kabupaten Jepara.
Unit Kegiatan Masyarakat ( UKM ) Peternakan ayam di desa Gemulung merupakan peternakan ayam untuk jenis ayam broiller pedaging. Ayam jenis ini dapat mencapai berat sekitar 2 Kg 8 ons ketika berumur kurang lebih 40 hari, dan siap untuk dipanen.

UKM peternakan ayam

Salah satu peternakan ayam di desa Gemulung adalah peternakan ayam milik mas sigit dan mas arif yang terletak di RT 03 RW 02 desa Gemulung. Di peternakan yang dapat menghasilkan tidak kurang 2500 ekor ayam siap konsumsi tiap panen ini dibutuhkan sedikitnya 8-9 ton pakan ayam ( Livur ) dari masa pembesaran sampai masa panen yang membutuhkan waktu sekitar 36-40 hari.
Beternak ayam sebenarnya susah-susah gampang. Gampang karena sebenarnya perawatan dan pemeliharaan ayam ternak tidaklah sulit. Keuletan dan ketekunan dalam pemberian pakan dan vaksin secara teratur, serta kecermatan dalam hal kebersihan kandang tentu akan menghasilkan ayam-ayam pedaging yang sehat dan aman untuk dikonsumsi.
Namun bila ayam-ayam ternak sudah terkena penyakit maka pengobatan yang diperlukan hingga resiko matinya ayam tidaklah sedikit. Belum lagi biaya yang dikeluarkan untuk pakan ayam yang mencapai hingga 9 ton untuk sekali musim pembesaran hingga panen yang diperkirakan mencapai 46 juta rupiah, mengingat harga 1 sak livur 50 Kg mencapai 255 ribu rupiah. Hal inilah yang kemudian membuat mayoritas penduduk desa Gemulung enggan untuk beternak ayam dan lebih memilih sektor usaha yang lain seperti pertanian dan perkebunan.

Sektor peternakan ayam sebenarnya memiliki prospek usaha yang cerah, apalagi daging ayam memiliki kandungan protein yang sangat baik apabila dikonsumsi, sehingga dapat membantu gizi dan kesehatan masyarakat Indonesia pada umumnya. Namun sekali lagi kendala yang paling banyak dijumpai di UKM pedesaan adalah modal usaha. Sehingga sangat diharapkan partisipasi dan bantuan Pemda Setempat, terutama pemda Jepara untuk ikut membantu dan mengembangkan sektor peternakan unggas seperti peternakan ayam yang terdapat di desa Gemulung Kecamatan Pecangaan Kabupaten Jepara Ini.

UKM Pengrajin Monel

Desa gemulung dalam upayanya menjadi desa yang maju dalam kemandirian, saat ini tidak lagi hanya mengandalkan sektor pertanian tebu sebagai mata pencaharian utama dan satu-satunya di desa yang terkenal sebagai salah satu desa produsen gula merah di kecamatan Pecangaan Kabupaten Jepara ini.
Monel, Bahan logam tahan karat namun sekeras besi, dewasa ini telah banyak digunakan oleh masyarakat desa Gemulung untuk dijadikan berbagai macam perhiasan dan aksesoris busana seperti cincin, anting-anting, gelang, kalung, dan bros dengan berbagai macam bentuk dan kreasi yang tidak kalah kualitasnya dengan perhiasan dan aksesoris yang terbuat dari perak dan kuningan.

Karakteristik monel yang keras, tahan karat, namun dengan biaya yang relatif lebih rendah dari perak, menjadikan bahan ini sebagai bahan baku yang dirasa sesuai untuk dijadikan sebagai alternatif bagi para pengrajin perhiasan di desa Gemulung ini, sehingga di masa mendatang sektor perekonomian di desa Gemulung ini tidak selamanya bergantung dari sektor pertanian tebu yang hanya panen sekali dalam setahun.

Bapak Abdi Kusno, salah satu pengrajin monel di desa Gemulung yang telah menggeluti kerajinan monel selama lebih dari 10 tahun ini menuturkan bahwa pemasaran kerajinan monel yang diproduksinya telah mampu dikirim tidak hanya di dalam daerah Jepara dan Jawa Tengah saja, namun kerajinan monel hasil produksinya bahkan mampu mencapai pasar di luar Pulau Jawa, seperti Pulau Sumatera, Kalimantan, Sulawesi hingga Papua. Adapun untuk pasar di Pulau Jawa mayoritas dikirim ke kota-kota besar seperti Surabaya dan Jakarta.
Tidak mengherankan memang bila pasar kerajinan monel ini mampu menembus pasar-pasar hingga hampir meliputi seluruh Indonesia, karena proses produksi kerajinan monel itu sendiri tidaklah mudah sehingga kualitas produk-produk yang dihasilkan pun tidak perlu diragukan lagi. Kecermatan dan ketelitian mutlak diperlukan bagi para pengrajin kerajinan monel dalam membentuk bahan logam monel hingga mampu menjadi berbagai jenis perhiasan dan aksesoris yang menarik dan cantik digunakan bagi orang yang memakai.

Bahan logam monel yang masih berbentuk lembaran-lembaran logam pertama-tama dibakar untuk mengeratkan molekul-molekul logam monel agar monel yang dihasilkan menjadi lebih kuat dan logam monel mudah dibentuk menjadi bentuk kerajinan yang diinginkan seperti cincin, giwang, kalung atau gelang. Setelah logam monel sudah dibentuk sesuai dengan model yang dikehendaki, selanjutnya model monel tersebut diamplas, dikikir, dan dihaluskan dengan proses smoothing sehingga didapatkan model kerajinan monel yang indah, halus, dan kuat.

Tahap terakhir untuk pembuatan kerajinan monel adalah pengkilapan.
Kerajinan monel dihargai berkisar Rp 50.000 – Rp 500.000 tiap kodinya untuk kerajinan cincin monel, dan Rp 100.000-Rp 200.000 untuk giwang monel.

Kisaran harga yang bervariasi ini ditentukan oleh bentuk model dan tingkat kesukaran yang dialami selama pembuatan kerajinan monel ini.

UKM Kerudung Muslimah

Desa Gemulung mempunyai masyarakat yang mayoritas beragama Islam. Nuansa Islami sangat jelas terasa di desa yang terkenal dengan penghasil gula merah ini. Tidak mengherankan apabila Unit Kegiatan Masyarakat ( UKM ) kerudung muslimah menjadi salah satu UKM yang masih mampu bertahan di tengah kondisi perekonomian dan permintaan pasar yang pasar surut.

UKM Kerudung milik Pak Zulikan adalah salah satu contoh UKM yang masih beroperasi sampai saat ini. UKM yang sudah berdiri sejak 7 tahun lalu ini mampu memproduksi 70 sampai 100 buah kerudung per harinya, dengan kisaran harga untuk tiap kerudungnya Rp 8.000 – Rp. 25.000 . Jumlah produksi ini meningkat hingga 3 kali lipat pada bulan suci Ramadhan dan menjelang hari raya Idul Fitri dan Idul Adha hingga mencapai 300 – 400 buah per harinya.

Namun seperti kebanyakan Usaha Industri Rumah Tangga lainnya yang masih terbentur dengan modal dan promosi produk ke daerah-daerah yang lebih luas lagi, UKM Kerudung Muslimah milik Pak Zulikan ini pun mengalami hal yang sama.

Sistem dan cara pembayaran yang tidak dibayarkan langsung secara penuh di muka yang dilakukan oleh pembeli, mau tidak mau berdampak pada pertumbuhan jumlah produksi dan pemasaran produk-produk kerudung yang biasa dipasarkan ke kota solo ini terhambat.
Dengan adanya sistem pembayaran kredit yang dlakukan oleh pembeli membuat produsen kurang berani untuk mengembangkan kreasi dan produksi kerudungnya karena terbatasnya dana yang ada. Untuk itulah UKM Kerudung Muslimah di desa Gemulung ini sangat membutuhkan perhatian dari Pemerintah, terutama Pemda Kabupaten Jepara.

UKM Kerupuk Singkong

Perkebunan ketela pohon merupakan hasil pertanian terbesar ketiga setelah tebu dan padi. walaupun ketela pohon bukan hasil pertanian yang utama, namun penghasilan dari perkebunan ketela tidak kalah dengan tebu dan padi. sebab masyarakat desa gemulung sudah memiliki teknik pengolahan hasil pangan dari ketela mentah menjadi sebuah kerupuk yang memiliki harga jual lebih tinggi.

cara pembuatan kerupuk ketela sangat sederhana, pertama adalah membersihkan ketela dari sisa-sisa tanah yang masih menempel, kemudian digiling menjadi adonan seperti bubur. setelah menjadi adonan, ketela dimasak di tungku hingga kandungan airnya berkurang dan mengental. setelah mengental (seperti adonan roti) ketela ditambahkan bahan perekat dan bumbu-bumbu penyedap tradisional untuk menambah aroma dan rasa gurih pada kerupuk. adonan yang sudah ada didinginkan dan kemudian diroll sehingga pipih, adonan yang telah dirol tersebut kemudian dipotong-potong membentuk persegi panjang dan kemudian dijemur. terakhir adalah penggorengan bahan mentah kerupuk yaitu hasil penjemuran adonan yang telah dikeringkan tersebut.

harga ketela yang tadinya Rp 3000,- per kilogramnya dapat menghasilkan kerupuk seberat 6-7 ons. itu berarti dengan mengalami proses pengolahan ketela menjadi keripik dapat meningkatkan nilai jual hampir 80% dari harga dasar ketela perkilogramnya.

Potensi Pertanian Tebu

Desa gemulung memiliki perbatasan persawahan pada setiap sisinya, atau dapat dikatakan pemukiman warga berada di tengah-tengah persawahan. hal tersebut menyebabkan mayoritas pekerjaan warga desa Gemulung adalah petani. banyak sekali hasil pertanian seperti padi, ketela pohon, dan tebu. namun sektor yang paling menonjol dari ketiga hasil pertanian tersebut adalah pertanian tebu. Tebu hanya mengalami masa panen satu kali tiap tahunnya. di desa gemulung terdapat 15 unit penampungan dan pengolahan tebu. setiap unitnya dapat menghasilkan 700 kilogram per hari pada masa panen. jadi total hasil pertanian tebu di desa gemulung mencapai 10,5 ton tebu tiap harinya.

melihat potensi penghasil tebu yang begitu besar, banyak industri gula yang mengambil bahan mentah berupa baggase (larutan kotor hasil penggilingan batang tebu) untuk diolah kembali menjadi gula pasir. namun tidak sedikit juga warga desa yang mengolah tebu tersebut menjadi gula merah atau sering disebut gula jawa. keterbatasan modal, SDM, dan peralatan yang lebih modern membuat warga desa gemulung kesulitan untuk mengolah gula tebu menjadi gula pasir, mengingat pengkristalah gula cair menjadi gula pasir membutuhkan mesin pemanas vakum yang harganya tidak terjangkau oleh masyarakat.

Untuk pembuatan gula pasir, batang tebu yang sudah dipanen diperas dengan mesin pemeras (mesin press) di pabrik gula. Sesudah itu, nira atau air perasan tebu tersebut disaring, dimasak, dan diputihkan sehingga menjadi gula pasir yang kita kenal. Dari proses pembuatan tebu tersebut akan dihasilkan gula 5%, ampas tebu 90% dan sisanya berupa tetes (molasse) dan air.

Pertama-tama bahan mentah dihancurkan dan diperas, sarinya dikumpulkan dan disaring, cairan yang terbentuk kemudian ditambahkan bahan tambahan (biasanya di gunakan kalsium oksida) untuk menghilangkan ketidak kemurnian, campuran tersebut kemudian dimurnikan dengan belerang dioksida. Campuran yang terbentuk kemudian dididihkan, endapan dan sampah yang mengambang kemudian dapat dipisahkan. Setelah cukup murni, cairan didinginkan dan dikristalkan (biasanya sambil diaduk) untuk memproduksi gula yang dapat dituang ke cetakan. Sebuah mesin sentrifugal juga dapat digunakan pada proses kristalisasi.

namun pengolahan gula tebu oleh manyarakat gemulung hanya menggunakan metode tradisional yaitu dengan menggiling batang tebu kemudian memurnikannya dengan memanaskan pada sebuah tungku dan ditambahkan zat pemisah kotoran sehingga membentuk gumapalan kental yang kemudian didinginkan dengan cara ditumpakan ke lantai dan terbentuklah gula merah.

dipasaran harga gula merah dengan gula pasir terpaut Rp 2000,- per kilogramnya. permasalahan yang ada pada desa gemulung adalah ketidakmampuan masyarakat desa untuk dapat mengkristalkan gula yang sudah bersih (nira) menjadi butiran kristal gula yang padat. faktor-faktor seperti kurangnya pengetahuan serta kurangnya dana masyarakat untuk dapat membeli alat pengkristal gula menjadi petani kalah bersaing dengan produk-produk luar yang memiliki investasi besar.