Sejarah Pendopo Jepara

Bangunan Pendopo Kabupaten Jepara ini dibangun kurang lebih pada tahun 1750, yaitu pada era pemerintahan Adipati Citro Sumo III, beliau merupakan pimpinan pemerintahan yang ke 23 selama kurun waktu 22 tahun (1730-1760), sedangkan ayah RA Kartini merupakan bupati ke 31 selama kurun waktu 24 tahun (1881-1905).

Pendopo Kabupaten menurut pembagian ruangnya adalah sebagai berikut :
Ruang Peringgitan, Ruang ini dulu untuk menerima/menjamu tamu terbatas, sampai saat inipun tempat ini masih dipergunakan untuk dahar prasmanan dan menerima tamu.

Namanya Rono Kaputren (yang ukiran tembus) atau berlubang dan yang blok ukir namanya Rono Keputran. Disebelah kiri itu dulu adalah ruangan kerja untuk bapak Sekwilda dan sebelah kanan adalah ruangan kerja bapak Bupati. Kedua rono/penyekat inidulu yangt membatasi RA Kartini dipingit.
Kita masuk ruangan keluarga, tempat/ruangan ini dulu dipergunakan untuk berkumpulnya keluarga RA Kartini, sekarang tempat ini dipergunakan untuk menerima tamu terbatas. Kemudian kita terus masuk ke ruangan tidur RA Kartini “waktu kecil” (sebelum menginjak dewasa/dengan ayah, Garwo Padmi dan saudara-saudaranya), ruangan ini yang sekarang untuk ruangan tengah, dulu ada 4 (empat) kamar, yang kelihatan penyekat/batas bekas dinding. Untuk tegelnya yang asli pada tahun 1980 ditumpangi tegel putih.
Kemudian kita masuki ruang pingitan, yang berukuran 3 x 4 m, pengertian dipingit tidak diruangan ini terus, boleh keluar tapi dengan batasan depan ada rono dan belakang ada tembok yang tinggio, dan pengertian dipingit adalah menunggu lamaran dari pria yang tidak dikenalnya. Didepan ruang pingit ini dulu untuk ruang makan keluarga RA Kartini.
Kemudian kita langsung menuju ruang belakang (serambi belakang pendopo) ruangan ini masih asli keadaannya pintu dan jendelanya masih asli peninggalan dulu, dan di ruangan ini dulu RA KArtini bias mewujudkan salah satu perjuangannya yaitu mendirikan sekolah wanita.
Di belakang kelihatan bangunan memanjang itu adalah dapur umum, yang pada masa RA Kartini dipergunakan untuk memberi pelajaran ketrampilan (memasak). di depan dapur umum ada 2 pohon bunga kantil kegemaran RA Kartini.

Bangunan di sebelah Pendopo Kabupaten yang sekarang untuk ruang kerja (Sekretariat Dharma Wanita) dulu adalah untuk pesanggrahan ibu kandung RA Kartini (MA Ngasirah) dan yang sekarang untuk ruang secretariat PKK, pada masa RA Kartini dijadikan ruangan untuk membina pengrajin ukir.
Kemudian kelihatan tembok tinggi dan dua pintu(regol) yang dulu dijaga punggowo adalah batas belakang pada saat RA Kartini dipingit. Untuk menjaga keamanan tembok ini sekarang ditutup.

Iklan

Sejarah Ratu Kalinyamat

Ratu Kalinyamat adalah putri Sultan Trenggana yang menjadi bupati di Jepara. Ia terkenal di kalangan Portugis sebagai sosok wanita pemberani.
Nama asli Ratu Kalinyamat adalah Retna Kencana, putri Sultan Trenggana raja Demak (1521-1546). Pada usia remaja ia dinikahkan denganPangeran Kalinyamat.
Pangeran Kalinyamat berasal dari luar Jawa. Terdapat berbagai versi tentang asal-usulnya. Masyarakat Jepara menyebut nama aslinya adalah Win-tang, seorang saudagar Cina yang mengalami kecelakaan di laut. Ia terdampar di pantai Jepara, dan kemudian berguru pada Sunan Kudus.
Versi lain mengatakan, Win-tang berasal dari Aceh. Nama aslinya adalah Pangeran Toyib, putra Sultan Mughayat Syah raja Aceh (1514-1528). Toyib berkelana ke Cina dan menjadi anak angkat seorang menteri bernama Tjie Hwio Gwan. Nama Win-tang adalah ejaan Jawa untuk Tjie Bin Thang, yaitu nama baru Toyib.
Win-tang dan ayah angkatnya kemudian pindah ke Jawa. Di sana Win-tang mendirikan desa Kalinyamat, sehingga ia pun dikenal dengan nama Pangeran Kalinyamat. Ia berhasil menikahi Retna Kencana putri bupati Jepara, sehingga istrinya itu kemudian dijuluki Ratu Kalinyamat. Sejak itu, Pangeran Kalinyamat menjadi anggota keluarga Kesultanan Demak dan memperoleh gelar Pangeran Hadiri.
Pangeran dan Ratu Kalinyamat memerintah bersama di Jepara. Tjie Hwio Gwan, sang ayah angkat, dijadikan patih bergelar Sungging Badar Duwung, yang juga mengajarkan seni ukir pada penduduk Jepara.
Pada tahun 1549 Sunan Prawata raja keempat Demak mati dibunuh utusan Arya Penangsang, sepupunya yang menjadi bupati Jipang. Ratu Kalinyamat menemukan keris Kyai Betok milik Sunan Kudus menancap pada mayat kakaknya itu. Maka, Pangeran dan Ratu Kalinyamat pun berangkat ke Kudus minta penjelasan.
Sunan Kudus adalah pendukung Arya Penangsang dalam konflik perebutan takhta sepeninggal Sultan Trenggana (1546). Ratu Kalinyamat datang menuntut keadilan atas kematian kakaknya. Sunan Kudus menjelaskan semasa muda Sunan Prawata pernah membunuh Pangeran Sekar Seda Lepen ayah Arya Penangsang, jadi wajar kalau ia sekarang mendapat balasan setimpal.
Ratu Kalinyamat kecewa atas sikap Sunan Kudus. Ia dan suaminya memilih pulang ke Jepara. Di tengah jalan, mereka dikeroyok anak buahArya Penangsang. Pangeran Kalinyamat tewas. Konon, ia sempat merambat di tanah dengan sisa-sisa tenaga, sehingga oleh penduduk sekitar, daerah tempat meninggalnya Pangeran Kalinyamat disebut desa Prambatan.
Menurut cerita. Selanjutnya dengan membawa jenazah Pangeran Kalinyamat, Ratu Kalinyamat meneruskan perjalanan sampai pada sebuah sungai dan darah yang berasal dari jenazah Pangeran Kalinyamat menjadikan air sungai berwarna ungu, dan kemudian dikenal daerah tersebut dengan nama Kaliwungu. Semakin ke barat, dan dalam kondisi lelah, kemudia melewati Pringtulis. Dan karena selahnya dengan berjalan sempoyongan (moyang-moyong) di tempat yang sekarang dikenal dengan nama Mayong. Sesampainya di Purwogondo, disebut demikian karena di tempat inilah awal keluarnya bau dari jenazah yang dibawa Ratu Kalinyamat, dan kemudia melewati Pecangaan dan sampai di Mantingan.
Ratu Kalinyamat berhasil meloloskan diri dari peristiwa pembunuhan itu. Ia kemudian bertapa telanjang di Gunung Danaraja, dengan sumpah tidak akan berpakaian sebelum berkeset kepala Arya Penangsang. Harapan terbesarnya adalah adik iparnya, yaitu Hadiwijaya alias Jaka Tingkir, bupati Pajang, karena hanya ia yang setara kesaktiannya dengan bupati Jipang.
Hadiwijaya segan menghadapi Arya Penangsang secara langsung karena sama-sama anggota keluarga Demak. Ia pun mengadakan sayembara yang berhadiah tanah Mataram dan Pati. Sayembara itu dimenangi oleh Ki Ageng Pemanahan dan Ki Penjawi. Arya Penangsangtewas di tangan Sutawijaya putra Ki Ageng Pemanahan, berkat siasat cerdik Ki Juru Martani.
Ratu Kalinyamat kembali menjadi bupati Jepara. Setelah kematian Arya Penangsang tahun 1549, wilayah Demak, Jepara, dan Jipang menjadi bawahan Pajang yang dipimpin Sultan Adiwijaya sebagai raja. Meskipun demikian, Sultan tetap memperlakukan Ratu Kalinyamat sebagai tokoh senior yang dihormati.
Ratu Kalinyamat sebagaimana bupati Jepara sebelumnya (Pati Unus), bersikap anti terhadap Portugis. Pada tahun 1550 ia mengirim 4.000 tentara Jepara dalam 40 buah kapal memenuhi permintaan sultan Kerajaan Johor untuk membebaskan Malaka dari kekuasaan bangsa Eropaitu.
Pasukan Jepara itu kemudian bergabung dengan pasukan Persekutuan Melayu hingga mencapai 200 kapal perang. Pasukan gabungan tersebut menyerang dari utara dan berhasil merebut sebagian Malaka. Namun Portugis berhasil membalasnya. Pasukan Persekutuan Melayu dapat dipukul mundur, sementara pasukan Jepara masih bertahan.
Baru setelah pemimpinnya gugur, pasukan Jepara ditarik mundur. Pertempuran selanjutnya masih terjadi di pantai dan laut yang menewaskan 2.000 prajurit Jepara. Badai datang menerjang sehingga dua buah kapal Jepara terdampar kembali ke pantai Malaka, dan menjadi mangsa bangsa Portugis. Prajurit Jepara yang berhasil kembali ke Jawa tidak lebih dari setengah dari yang berhasil meninggalkan Malaka.
Ratu Kalinyamat tidak pernah jera. Pada tahun 1565 ia memenuhi permintaan orang-orang Hitu di Ambon untuk menghadapi gangguan bangsaPortugis dan kaum Hative.
Pada tahun 1564 Sultan Ali Riayat Syah raja Aceh meminta bantuan Demak untuk menyerang Portugis di Malaka. Saat itu Demak dipimpin seorang bupati yang mudah curiga, bernama Arya Pangiri, putra Sunan Prawata. Utusan Aceh dibunuhnya. Akhirnya, Aceh tetap menyerangMalaka tahun 1567 meskipun tanpa bantuan Jawa. Serangan itu gagal.
Pada tahun 1573 sultan Aceh meminta bantuan Ratu Kalinyamat untuk menyerang Malaka kembali. Ratu mengirimkan 300 kapal berisi 15.000 prajurit Jepara. Pasukan yang dipimpin oleh Ki Demang Laksamana itu baru tiba di Malaka bulan Oktober 1574. Padahal saat itu pasukanAceh sudah dipukul mundur oleh Portugis.
Pasukan Jepara yang terlambat datang itu langsung menembaki Malaka dari laut. Esoknya, mereka mendarat dan membangun pertahanan. Tapi akhirnya, pertahanan itu dapat ditembus pihak Portugis. Sebanyak 30 buah kapal Jepara terbakar. Pihak Jepara mulai terdesak, namun tetap menolak perundingan damai karena terlalu menguntungkan Portugis. Sementara itu, sebanyak enam kapal perbekalan yang dikirim Ratu Kalinyamat direbut Portugis. Pihak Jepara semakin lemah dan memutuskan pulang. Dari jumlah awal yang dikirim Ratu Kalinyamat, hanya sekitar sepertiga saja yang tiba di Jawa.
Meskipun dua kali mengalami kekalahan, namun Ratu Kalinyamat telah menunjukkan bahwa dirinya seorang wanita yang gagah berani. Bahkan Portugis mencatatnya sebagai rainha de Japara, senhora poderosa e rica, de kranige Dame, yang berarti “Ratu Jepara seorang wanita yang kaya dan berkuasa, seorang perempuan pemberani”.
Ratu Kalinyamat meninggal dunia sekitar tahun 1579. Ia dimakamkan di dekat makam Pangeran Kalinyamat di desa Mantingan.
Semasa hidupnya, Ratu Kalinyamat membesarkan tiga orang pemuda. Yang pertama adalah adiknya, yaitu Pangeran Timur Rangga Jumena putra bungsu Sultan Trenggana yang kemudian menjadi bupati Madiun. Yang kedua adalah keponakannya, yaitu Arya Pangiri putra Sunan Prawata yang kemudian menjadi bupati Demak. Sedangkan yang ketiga adalah sepupunya, yaitu Pangeran Arya Jepara putra Ratu Ayu Kirana (adik Sultan Trenggana).
Ayah Pangeran Arya Jepara adalah Maulana Hasanuddin raja pertama Banten. Ketika Maulana Yusuf raja kedua Banten meninggal dunia tahun 1580, putra mahkotanya masih kecil. Pangeran Arya Jepara berniat merebut takhta. Pertempuran terjadi di Banten. Pangeran Jepara terpaksa mundur setelah ki Demang Laksamana, panglimanya, gugur di tangan patih mangkubumi Kesultanan Banten.

Sejarah Kota Jepara

Asal nama Jepara berasal dari perkataan Ujung Para, Ujung Mara dan Jumpara yang kemudian menjadi Jepara, yang berarti sebuah tempat pemukiman para pedagang yang berniaga ke berbagai daerah. Menurut buku “Sejarah Baru Dinasti Tang (618-906 M)” mencatat bahwa pada tahun 674 M seorang musafir Tionghoa bernama I-Tsing pernah mengunjungi negeri Holing atau Kaling atau Kalingga yang juga disebut Jawaatau Japa dan diyakini berlokasi di Keling, kawasan timur Jepara sekarang ini, serta dipimpin oleh seorang raja wanita bernama Ratu Shima yang dikenal sangat tegas.
Menurut seorang penulis Portugis bernama Tome Pires dalam bukunya “Suma Oriental”, Jepara baru dikenal pada abad ke-XV (1470 M) sebagai bandar perdagangan yang kecil yang baru dihuni oleh 90-100 orang dan dipimpin oleh Aryo Timur dan berada dibawah pemerintahan Demak. Kemudian Aryo Timur digantikan oleh putranya yang bernama Pati Unus (1507-1521). Pati Unus mencoba untuk membangun Jepara menjadi kota niaga.
Pati Unus dikenal sangat gigih melawan penjajahan Portugis di Malaka yang menjadi mata rantai perdagangan nusantara. Setelah Pati Unus wafat digantikan oleh ipar Faletehan /Fatahillah yang berkuasa (1521-1536). Kemudian pada tahun 1536 oleh penguasa Demak yaitu Sultan Trenggono, Jepara diserahkan kepada anak dan menantunya yaitu Ratu Retno Kencono dan Pangeran Hadiri suami. Namun setelah tewasnya Sultan Trenggono dalam Ekspedisi Militer di Panarukan Jawa Timur pada tahun 1546, timbulnya geger perebutan tahta kerajaan Demak yang berakhir dengan tewasnya Pangeran Hadiri oleh Aryo Penangsang pada tahun 1549.
Kematian orang-orang yang dikasihi membuat Ratu Retno Kencono sangat berduka dan meninggalkan kehidupan istana untuk bertapa di bukit Danaraja. Setelah terbunuhnya Aryo Penangsang oleh Sutowijoyo, Ratu Retno Kencono bersedia turun dari pertapaan dan dilantik menjadi penguasa Jepara dengan gelar NIMAS RATU KALINYAMAT.
Pada masa pemerintahan Ratu Kalinyamat (1549-1579), Jepara berkembang pesat menjadi Bandar Niaga utama di Pulau Jawa, yang melayani eksport import. Disamping itu juga menjadi Pangkalan Angkatan Laut yang telah dirintis sejak masa Kerajaan Demak.
Sebagai seorang penguasa Jepara, yang gemah ripah loh jinawi karena keberadaan Jepara kala itu sebagai Bandar Niaga yang ramai, Ratu Kalinyamat dikenal mempunyai jiwa patriotisme anti penjajahan. Hal ini dibuktikan dengan pengiriman armada perangnya ke Malaka guna menggempur Portugis pada tahun 1551 dan tahun 1574. Adalah tidak berlebihan jika orang Portugis saat itu menyebut sang Ratu sebagai “RAINHA DE JEPARA”SENORA DE RICA”, yang artinya Raja Jepara seorang wanita yang sangat berkuasa dan kaya raya.
Serangan sang Ratu yang gagah berani ini melibatkan hamper 40 buah kapal yang berisikan lebih kurang 5.000 orang prajurit. Namun serangan ini gagal, ketika prajurit Kalinyamat ini melakukan serangan darat dalam upaya mengepung benteng pertahanan Asal nama Jepara berasal dari perkataan Ujung Para, Ujung Mara dan Jumpara yang kemudian menjadi Jepara, yang berarti sebuah tempat pemukiman para pedagang yang berniaga ke berbagai daerah. Menurut buku “Sejarah Baru Dinasti Tang (618-906 M)” mencatat bahwa pada tahun 674 M seorang musafir Tionghoa bernama I-Tsing pernah mengunjungi negeri Holing atau Kaling atau Kalingga yang juga disebut Jawaatau Japa dan diyakini berlokasi di Keling, kawasan timur Jepara sekarang ini, serta dipimpin oleh seorang raja wanita bernama Ratu Shima yang dikenal sangat tegas.
Menurut seorang penulis Portugis bernama Tome Pires dalam bukunya “Suma Oriental”, Jepara baru dikenal pada abad ke-XV (1470 M) sebagai bandar perdagangan yang kecil yang baru dihuni oleh 90-100 orang dan dipimpin oleh Aryo Timur dan berada dibawah pemerintahan Demak. Kemudian Aryo Timur digantikan oleh putranya yang bernama Pati Unus (1507-1521). Pati Unus mencoba untuk membangun Jepara menjadi kota niaga.
Pati Unus dikenal sangat gigih melawan penjajahan Portugis di Malaka yang menjadi mata rantai perdagangan nusantara. Setelah Pati Unus wafat digantikan oleh ipar Faletehan /Fatahillah yang berkuasa (1521-1536). Kemudian pada tahun 1536 oleh penguasa Demak yaitu Sultan Trenggono, Jepara diserahkan kepada anak dan menantunya yaitu Ratu Retno Kencono dan Pangeran Hadiri suami. Namun setelah tewasnya Sultan Trenggono dalam Ekspedisi Militer di Panarukan Jawa Timur pada tahun 1546, timbulnya geger perebutan tahta kerajaan Demak yang berakhir dengan tewasnya Pangeran Hadiri oleh Aryo Penangsang pada tahun 1549.
Kematian orang-orang yang dikasihi membuat Ratu Retno Kencono sangat berduka dan meninggalkan kehidupan istana untuk bertapa di bukit Danaraja. Setelah terbunuhnya Aryo Penangsang oleh Sutowijoyo, Ratu Retno Kencono bersedia turun dari pertapaan dan dilantik menjadi penguasa Jepara dengan gelar NIMAS RATU KALINYAMAT.
Pada masa pemerintahan Ratu Kalinyamat (1549-1579), Jepara berkembang pesat menjadi Bandar Niaga utama di Pulau Jawa, yang melayani eksport import. Disamping itu juga menjadi Pangkalan Angkatan Laut yang telah dirintis sejak masa Kerajaan Demak.
Sebagai seorang penguasa Jepara, yang gemah ripah loh jinawi karena keberadaan Jepara kala itu sebagai Bandar Niaga yang ramai, Ratu Kalinyamat dikenal mempunyai jiwa patriotisme anti penjajahan. Hal ini dibuktikan dengan pengiriman armada perangnya ke Malaka guna menggempur Portugis pada tahun 1551 dan tahun 1574. Adalah tidak berlebihan jika orang Portugis saat itu menyebut sang Ratu sebagai “RAINHA DE JEPARA”SENORA DE RICA”, yang artinya Raja Jepara seorang wanita yang sangat berkuasa dan kaya raya.
Serangan sang Ratu yang gagah berani ini melibatkan hamper 40 buah kapal yang berisikan lebih kurang 5.000 orang prajurit. Namun serangan ini gagal, ketika prajurit Kalinyamat ini melakukan serangan darat dalam upaya mengepung benteng pertahanan Portugis di Malaka, tentara Portugis dengan persenjataan lengkap berhasil mematahkan kepungan tentara Kalinyamat.
Namun semangat Patriotisme sang Ratu tidak pernah luntur dan gentar menghadapi penjajah bangsa Portugis, yang di abad 16 itu sedang dalam puncak kejayaan dan diakui sebagai bangsa pemberani di Dunia.
Dua puluh empat tahun kemudian atau tepatnya Oktober 1574, sang Ratu Kalinyamat mengirimkan armada militernya yang lebih besar di Malaka. Ekspedisi militer kedua ini melibatkan 300 buah kapal diantaranya 80 buah kapal jung besar berawak 15.000 orang prajurit pilihan. Pengiriman armada militer kedua ini di pimpin oleh panglima terpenting dalam kerajaan yang disebut orang Portugis sebagai “QUILIMO”.
Walaupun akhirnya perang kedua ini yang berlangsung berbulan-bulan tentara Kalinyamat juga tidak berhasil mengusir Portugis dari Malaka, namun telah membuat Portugis takut dan jera berhadapan dengan Raja Jepara ini, terbukti dengan bebasnya Pulau Jawa dari Penjajahan Portugis di abad 16 itu.
Sebagai peninggalan sejarah dari perang besar antara Jepara dan Portugis, sampai sekarang masih terdapat di Malaka komplek kuburan yang di sebut sebagai Makam Tentara Jawa. Selain itu tokoh Ratu Kalinyamat ini juga sangat berjasa dalam membudayakan SENI UKIR yang sekarang ini jadi andalan utama ekonomi Jepara yaitu perpaduan seni ukir Majapahit dengan seni ukir Patih Badarduwung yang berasal dari Negeri Cina.
Menurut catatan sejarah Ratu Kalinyamat wafat pada tahun 1579 dan dimakamkan di desa Mantingan Jepara, di sebelah makam suaminya Pangeran Hadiri. Mengacu pada semua aspek positif yang telah dibuktikan oleh Ratu Kalinyamat sehingga Jepara menjadi negeri yang makmur, kuat dan mashur maka penetapan Hari Jadi Jepara yang mengambil waktu beliau dinobatkan sebagai penguasa Jepara atau yang bertepatan dengan tanggal 10 April 1549 ini telah ditandai dengan Candra Sengkala TRUS KARYA TATANING BUMI atau terus bekerja keras membangun daerah.

Jepara Kota Ukir

Kabupaten Jepara, adalah salah satu kabupaten di Provinsi Jawa Tengah. Ibukotanya adalah Jepara. Kabupaten ini berbatasan dengan Laut Jawa di barat dan utara,Kabupaten Pati dan Kabupaten Kudus di timur, serta Kabupaten Demak di selatan. Wilayah Kabupaten Jepara juga meliputi Kepulauan Karimunjawa, yang berada di Laut Jawa.

Kabupaten Jepara terletak di pantura timur Jawa Tengah, dimana bagian barat dan utara dibatasi oleh laut. Bagian timur wilayah kabupaten ini merupakan daerah pegunungan.

Wilayah Kabupaten Jepara juga meliputi Kepulauan Karimunjawa, yakni gugusan pulau-pulau di Laut Jawa. Dua pulau terbesarnya adalah Pulau Karimunjawa dan Pulau Kemujan. Sebagian besar wilayah Karimunjawa dilindungi dalam Cagar Alam Laut Karimunjawa. Penyeberangan ke kepulauan ini dilayani oleh kapal ferry yang bertolak dari Pelabuhan Jepara. Karimunjawa juga terdapat lapangan terbang perintis yang didarati pesawat berjenis kecil dari Semarang.

Jepara dikenal sebagai kota ukir, karena terdapat sentra kerajinan ukiran kayu ketenarannya hingga ke luar negeri. Kerajinan mebel dan ukir ini tersebar merata hampir di seluruh kecamatan dengan keahlian masing-masing. Namun sentra perdagangannya terlekat di wilayah Ngabul, Senenan, Tahunan, Pekeng, Kalongan dan Pemuda. Selain itu, Jepara merupakan kota kelahiran pahlawan wanita Indonesia R.A. Kartini.
Potensi Kabupaten Jepara :
>> Industri Mebel Ukir Jepara. Industri ini tersebar luas di hampir semua kecamatan Jepara, kecuali Kecamatan Karimun Jawa
>> Kerajinan Patung & Ukiran. Sentra Kerajinan ini terdapat di desa Mulyoharjo Jepara. Di sana terdapat lebih dari 90 pengusaha di bidang kerajinan Patung dan Ukiran
>> Kerajinan Relief.Sentra Kerajinan ini terdapat di Desa Senenan, dekat Rumah Sakit Kartini Senenan Jepara.
>> Mebel & Kerajinan Rotan. Kerajinan rotan in terkumpul di Desa Teluk Sidi Jepara.
>> Tenun Ikat Troso (sarung, sprei, korden, bahan baju terbuat deri sutra dan katun). Sentra Tenun ini tersentra di daerah Troso, Pecangaan Jepara.
>> Kerajinan Monel
>> Kerajinan Gerabah Mayong
>> pariwisata

Industri Mebel dan Kerajinan merupakan industri andalan kabupaten Jepara. Industri tersebut telah menjadi tulang punggung perekonomian Jepara. pariwisata Jepara memiliki banyak objek menarik yang dapat dikembangkan lebih baik lagi, diantaranya Pantai Kartini, Bandengan dan karimun jawa. karena keterbatasan APBD yang ada, maka pengembangan pun belum optimal. selain itu, yang saat ini menarik adalah wisata budaya dan wisata industri. industri mebel dan ukir jepara yang berbasis HOME INDUSTRI dan merupakan kerajinan tangan dapat pula dikembangkan menjadi wisata industri sekaligus wisata belanja produk kerajinan jepara.

UKM Peternakan Ayam

Sektor peternakan di desa Gemulung sebenarnya bukanlah sektor utama mata pencaharian penduduk di desa yang terletak sekitar 2 Km dari pusat pemerintahan Kecamatan Pecangaan kabupaten Jepara.
Unit Kegiatan Masyarakat ( UKM ) Peternakan ayam di desa Gemulung merupakan peternakan ayam untuk jenis ayam broiller pedaging. Ayam jenis ini dapat mencapai berat sekitar 2 Kg 8 ons ketika berumur kurang lebih 40 hari, dan siap untuk dipanen.

UKM peternakan ayam

Salah satu peternakan ayam di desa Gemulung adalah peternakan ayam milik mas sigit dan mas arif yang terletak di RT 03 RW 02 desa Gemulung. Di peternakan yang dapat menghasilkan tidak kurang 2500 ekor ayam siap konsumsi tiap panen ini dibutuhkan sedikitnya 8-9 ton pakan ayam ( Livur ) dari masa pembesaran sampai masa panen yang membutuhkan waktu sekitar 36-40 hari.
Beternak ayam sebenarnya susah-susah gampang. Gampang karena sebenarnya perawatan dan pemeliharaan ayam ternak tidaklah sulit. Keuletan dan ketekunan dalam pemberian pakan dan vaksin secara teratur, serta kecermatan dalam hal kebersihan kandang tentu akan menghasilkan ayam-ayam pedaging yang sehat dan aman untuk dikonsumsi.
Namun bila ayam-ayam ternak sudah terkena penyakit maka pengobatan yang diperlukan hingga resiko matinya ayam tidaklah sedikit. Belum lagi biaya yang dikeluarkan untuk pakan ayam yang mencapai hingga 9 ton untuk sekali musim pembesaran hingga panen yang diperkirakan mencapai 46 juta rupiah, mengingat harga 1 sak livur 50 Kg mencapai 255 ribu rupiah. Hal inilah yang kemudian membuat mayoritas penduduk desa Gemulung enggan untuk beternak ayam dan lebih memilih sektor usaha yang lain seperti pertanian dan perkebunan.

Sektor peternakan ayam sebenarnya memiliki prospek usaha yang cerah, apalagi daging ayam memiliki kandungan protein yang sangat baik apabila dikonsumsi, sehingga dapat membantu gizi dan kesehatan masyarakat Indonesia pada umumnya. Namun sekali lagi kendala yang paling banyak dijumpai di UKM pedesaan adalah modal usaha. Sehingga sangat diharapkan partisipasi dan bantuan Pemda Setempat, terutama pemda Jepara untuk ikut membantu dan mengembangkan sektor peternakan unggas seperti peternakan ayam yang terdapat di desa Gemulung Kecamatan Pecangaan Kabupaten Jepara Ini.

UKM Pengrajin Monel

Desa gemulung dalam upayanya menjadi desa yang maju dalam kemandirian, saat ini tidak lagi hanya mengandalkan sektor pertanian tebu sebagai mata pencaharian utama dan satu-satunya di desa yang terkenal sebagai salah satu desa produsen gula merah di kecamatan Pecangaan Kabupaten Jepara ini.
Monel, Bahan logam tahan karat namun sekeras besi, dewasa ini telah banyak digunakan oleh masyarakat desa Gemulung untuk dijadikan berbagai macam perhiasan dan aksesoris busana seperti cincin, anting-anting, gelang, kalung, dan bros dengan berbagai macam bentuk dan kreasi yang tidak kalah kualitasnya dengan perhiasan dan aksesoris yang terbuat dari perak dan kuningan.

Karakteristik monel yang keras, tahan karat, namun dengan biaya yang relatif lebih rendah dari perak, menjadikan bahan ini sebagai bahan baku yang dirasa sesuai untuk dijadikan sebagai alternatif bagi para pengrajin perhiasan di desa Gemulung ini, sehingga di masa mendatang sektor perekonomian di desa Gemulung ini tidak selamanya bergantung dari sektor pertanian tebu yang hanya panen sekali dalam setahun.

Bapak Abdi Kusno, salah satu pengrajin monel di desa Gemulung yang telah menggeluti kerajinan monel selama lebih dari 10 tahun ini menuturkan bahwa pemasaran kerajinan monel yang diproduksinya telah mampu dikirim tidak hanya di dalam daerah Jepara dan Jawa Tengah saja, namun kerajinan monel hasil produksinya bahkan mampu mencapai pasar di luar Pulau Jawa, seperti Pulau Sumatera, Kalimantan, Sulawesi hingga Papua. Adapun untuk pasar di Pulau Jawa mayoritas dikirim ke kota-kota besar seperti Surabaya dan Jakarta.
Tidak mengherankan memang bila pasar kerajinan monel ini mampu menembus pasar-pasar hingga hampir meliputi seluruh Indonesia, karena proses produksi kerajinan monel itu sendiri tidaklah mudah sehingga kualitas produk-produk yang dihasilkan pun tidak perlu diragukan lagi. Kecermatan dan ketelitian mutlak diperlukan bagi para pengrajin kerajinan monel dalam membentuk bahan logam monel hingga mampu menjadi berbagai jenis perhiasan dan aksesoris yang menarik dan cantik digunakan bagi orang yang memakai.

Bahan logam monel yang masih berbentuk lembaran-lembaran logam pertama-tama dibakar untuk mengeratkan molekul-molekul logam monel agar monel yang dihasilkan menjadi lebih kuat dan logam monel mudah dibentuk menjadi bentuk kerajinan yang diinginkan seperti cincin, giwang, kalung atau gelang. Setelah logam monel sudah dibentuk sesuai dengan model yang dikehendaki, selanjutnya model monel tersebut diamplas, dikikir, dan dihaluskan dengan proses smoothing sehingga didapatkan model kerajinan monel yang indah, halus, dan kuat.

Tahap terakhir untuk pembuatan kerajinan monel adalah pengkilapan.
Kerajinan monel dihargai berkisar Rp 50.000 – Rp 500.000 tiap kodinya untuk kerajinan cincin monel, dan Rp 100.000-Rp 200.000 untuk giwang monel.

Kisaran harga yang bervariasi ini ditentukan oleh bentuk model dan tingkat kesukaran yang dialami selama pembuatan kerajinan monel ini.

UKM Kerudung Muslimah

Desa Gemulung mempunyai masyarakat yang mayoritas beragama Islam. Nuansa Islami sangat jelas terasa di desa yang terkenal dengan penghasil gula merah ini. Tidak mengherankan apabila Unit Kegiatan Masyarakat ( UKM ) kerudung muslimah menjadi salah satu UKM yang masih mampu bertahan di tengah kondisi perekonomian dan permintaan pasar yang pasar surut.

UKM Kerudung milik Pak Zulikan adalah salah satu contoh UKM yang masih beroperasi sampai saat ini. UKM yang sudah berdiri sejak 7 tahun lalu ini mampu memproduksi 70 sampai 100 buah kerudung per harinya, dengan kisaran harga untuk tiap kerudungnya Rp 8.000 – Rp. 25.000 . Jumlah produksi ini meningkat hingga 3 kali lipat pada bulan suci Ramadhan dan menjelang hari raya Idul Fitri dan Idul Adha hingga mencapai 300 – 400 buah per harinya.

Namun seperti kebanyakan Usaha Industri Rumah Tangga lainnya yang masih terbentur dengan modal dan promosi produk ke daerah-daerah yang lebih luas lagi, UKM Kerudung Muslimah milik Pak Zulikan ini pun mengalami hal yang sama.

Sistem dan cara pembayaran yang tidak dibayarkan langsung secara penuh di muka yang dilakukan oleh pembeli, mau tidak mau berdampak pada pertumbuhan jumlah produksi dan pemasaran produk-produk kerudung yang biasa dipasarkan ke kota solo ini terhambat.
Dengan adanya sistem pembayaran kredit yang dlakukan oleh pembeli membuat produsen kurang berani untuk mengembangkan kreasi dan produksi kerudungnya karena terbatasnya dana yang ada. Untuk itulah UKM Kerudung Muslimah di desa Gemulung ini sangat membutuhkan perhatian dari Pemerintah, terutama Pemda Kabupaten Jepara.

UKM Kerupuk Singkong

Perkebunan ketela pohon merupakan hasil pertanian terbesar ketiga setelah tebu dan padi. walaupun ketela pohon bukan hasil pertanian yang utama, namun penghasilan dari perkebunan ketela tidak kalah dengan tebu dan padi. sebab masyarakat desa gemulung sudah memiliki teknik pengolahan hasil pangan dari ketela mentah menjadi sebuah kerupuk yang memiliki harga jual lebih tinggi.

cara pembuatan kerupuk ketela sangat sederhana, pertama adalah membersihkan ketela dari sisa-sisa tanah yang masih menempel, kemudian digiling menjadi adonan seperti bubur. setelah menjadi adonan, ketela dimasak di tungku hingga kandungan airnya berkurang dan mengental. setelah mengental (seperti adonan roti) ketela ditambahkan bahan perekat dan bumbu-bumbu penyedap tradisional untuk menambah aroma dan rasa gurih pada kerupuk. adonan yang sudah ada didinginkan dan kemudian diroll sehingga pipih, adonan yang telah dirol tersebut kemudian dipotong-potong membentuk persegi panjang dan kemudian dijemur. terakhir adalah penggorengan bahan mentah kerupuk yaitu hasil penjemuran adonan yang telah dikeringkan tersebut.

harga ketela yang tadinya Rp 3000,- per kilogramnya dapat menghasilkan kerupuk seberat 6-7 ons. itu berarti dengan mengalami proses pengolahan ketela menjadi keripik dapat meningkatkan nilai jual hampir 80% dari harga dasar ketela perkilogramnya.

Potensi Pertanian Tebu

Desa gemulung memiliki perbatasan persawahan pada setiap sisinya, atau dapat dikatakan pemukiman warga berada di tengah-tengah persawahan. hal tersebut menyebabkan mayoritas pekerjaan warga desa Gemulung adalah petani. banyak sekali hasil pertanian seperti padi, ketela pohon, dan tebu. namun sektor yang paling menonjol dari ketiga hasil pertanian tersebut adalah pertanian tebu. Tebu hanya mengalami masa panen satu kali tiap tahunnya. di desa gemulung terdapat 15 unit penampungan dan pengolahan tebu. setiap unitnya dapat menghasilkan 700 kilogram per hari pada masa panen. jadi total hasil pertanian tebu di desa gemulung mencapai 10,5 ton tebu tiap harinya.

melihat potensi penghasil tebu yang begitu besar, banyak industri gula yang mengambil bahan mentah berupa baggase (larutan kotor hasil penggilingan batang tebu) untuk diolah kembali menjadi gula pasir. namun tidak sedikit juga warga desa yang mengolah tebu tersebut menjadi gula merah atau sering disebut gula jawa. keterbatasan modal, SDM, dan peralatan yang lebih modern membuat warga desa gemulung kesulitan untuk mengolah gula tebu menjadi gula pasir, mengingat pengkristalah gula cair menjadi gula pasir membutuhkan mesin pemanas vakum yang harganya tidak terjangkau oleh masyarakat.

Untuk pembuatan gula pasir, batang tebu yang sudah dipanen diperas dengan mesin pemeras (mesin press) di pabrik gula. Sesudah itu, nira atau air perasan tebu tersebut disaring, dimasak, dan diputihkan sehingga menjadi gula pasir yang kita kenal. Dari proses pembuatan tebu tersebut akan dihasilkan gula 5%, ampas tebu 90% dan sisanya berupa tetes (molasse) dan air.

Pertama-tama bahan mentah dihancurkan dan diperas, sarinya dikumpulkan dan disaring, cairan yang terbentuk kemudian ditambahkan bahan tambahan (biasanya di gunakan kalsium oksida) untuk menghilangkan ketidak kemurnian, campuran tersebut kemudian dimurnikan dengan belerang dioksida. Campuran yang terbentuk kemudian dididihkan, endapan dan sampah yang mengambang kemudian dapat dipisahkan. Setelah cukup murni, cairan didinginkan dan dikristalkan (biasanya sambil diaduk) untuk memproduksi gula yang dapat dituang ke cetakan. Sebuah mesin sentrifugal juga dapat digunakan pada proses kristalisasi.

namun pengolahan gula tebu oleh manyarakat gemulung hanya menggunakan metode tradisional yaitu dengan menggiling batang tebu kemudian memurnikannya dengan memanaskan pada sebuah tungku dan ditambahkan zat pemisah kotoran sehingga membentuk gumapalan kental yang kemudian didinginkan dengan cara ditumpakan ke lantai dan terbentuklah gula merah.

dipasaran harga gula merah dengan gula pasir terpaut Rp 2000,- per kilogramnya. permasalahan yang ada pada desa gemulung adalah ketidakmampuan masyarakat desa untuk dapat mengkristalkan gula yang sudah bersih (nira) menjadi butiran kristal gula yang padat. faktor-faktor seperti kurangnya pengetahuan serta kurangnya dana masyarakat untuk dapat membeli alat pengkristal gula menjadi petani kalah bersaing dengan produk-produk luar yang memiliki investasi besar.

Selayang Pandang Desa Gemulung

Desa Gemulung merupakan salah satu desa di Kecamatan Pecangaan yang termasuk dalam wilayah Kabupaten Jepara Provinsi Jawa Tengah.

Sebagai desa yang sedang berkembang menjadi desa mandiri, desa Gemulung tidak lagi hanya mengandalkan sektor pertanian sebagai mata pencaharian masyarakatnya. Berbagai macam Unit Kegiatan Masyarakat ( UKM ) telah banyak berkembang di Desa yang terkenal akan produksi gula merah dan pertanian tebu ini, khususnya di wilayah kecamatan Pecangaan Kabupaten Jepara.

Sektor Pertanian tetap menjadi sektor penting bagi sebagian besar masyarakat desa gemulung, namun adanya berbagai macam UKM ini tidak dapat dipungkiri telah berhasil menggeliatkan kembali roda perekonomian masyarakat desa Gemulung, sehingga tidak lagi hanya mengandalkan sektor pertanian tebu yang panen hanya sekali dalam satu tahun.

Unit Kegiatan Masyarakat ( UKM ) pengrajin perhiasan monel, pembuatan kerudung muslimah, peternak ayam dan ikan lele, serta pembuat makanan ringan tradisional seperti rengginang dan kerupuk singkong merupakan beberapa macam UKM yang tengah berkembang di desa Gemulung Kecamataan Pecangaan Kabupaten Jepara ini.

Secara Administratif, Desa Gemulung berbatasan langsung dengan desa Damarjati di sebelah timur, desa Banyuputih di sebalah selatan, desa Lebuawu di baratdaya, desa Pulodarat di sebelah barat, dan desa rengging di sebelah utara, yang kesemuanya termasuk dalam wilayah kerja Kecamataan Pecangaan Kabupaten Jepara.

Balai Desa Gemulung

Sistem Pemerintahan di desa Gemulung ini dipimpin oleh seorang kepala desa yang lebih dikenal sebagai petinggi desa. Petinggi desa dibantu oleh seorang sekretaris desa ( Carik ) dan perangkat lainnya dalam menjalankan roda pemerintahan desa. Selain perangkat desa, ada juga elemen “legislatif” yang disebut Badan Perwakilan Daerah ( BPD ) yang bertugas sebagai pembawa aspirasi masyarakat desa serta pengawas kegiatan pemerintahan di tingkat desa.